KRITIK
SENI
Diajukan untuk
memenuhi tugas mata kuliah
Pendidikan
Seni Rupa
Dosen pembimbing : Muhammad Reyhan Florean, M.Pd.
Disusun Oleh :
1. Dita Ratna Sari (14186206146)
2. Dwika Rensi Puspita Rini (14186206121)
3. Erlina Dwi Trisnawati (14186206323)
4. Maratus Solihah (14186206322)
5. Tri Wahyuni Meilani (14186206289)
PGSD/3D
Kelompok : 3
STKIP PGRI
TULUNGAGUNG
Jln. Mayor Sujadi No. 7 Tulungagung
Telp.
0355-3214265
KRITIK
SENI
Diajukan untuk
memenuhi tugas mata kuliah
Pendidikan
Seni Rupa
Dosen pembimbing : Muhammad Reyhan Florean, M.Pd.
Disusun Oleh :
1. Dita Ratna Sari (14186206146)
2. Dwika Rensi Puspita Rini (14186206121)
3. Erlina Dwi Trisnawati (14186206323)
4. Maratus Solihah (14186206322)
5. Tri Wahyuni Meilani (14186206289)
PGSD/3D
Kelompok : 3
STKIP PGRI
TULUNGAGUNG
Jln. Mayor Sujadi No. 7 Tulungagung
Telp.
0355-3214265
Kata
Pengantar
Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT,
yang telah memberikan Rahmat serta Hidayah-Nya sehingga kita dapat
menyelesaikan Makalah Tentang “Kritik Seni”. Sholawat serta salam tak lupa kami haturkan pada
junjungan kami, Nabi besar Muhammad SAW.
Tak lupa pula kami ucapkan banyak terima kasih kepada
kedua orang tua kami yang telah memberikan restu dan dorongan / support pada
kami dalam menyelesaikan makalah ini. Dan juga kami ucapkan terima kasih yang
tak terhingga pada rekan – rekan dan orang – orang terdekat kami, yang telah
banyak membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Harapan kami semoga makalah ini
bisa memberikan manfaat bagi para pembaca. Sehingga dengan Makalah Tentang Kritik
Seni ini kita bisa memberikan sedikit
ilmu dan pengetahuan pada para pembaca.
Kami juga mohon maaf apabila ada
kesalahan yang kami sengaja maupun tidak kami sengaja, karena manusia tidak
pernah lepas dari kesalahan. Kritik dan saran membangun dari anda selalu kami
tunggu, agar kedepannya kami bisa lebih baik dalam penyusunan makalah.
Terima kasih.
Tulungagung, 29
November 2015
DAFTAR ISI
Halaman
Sampul....................................................................................................... i
Kata
Pengantar......................................................................................................... ii
Daftar
Isi................................................................................................................. iii
BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar
Belakang............................................................................................... 1
1.2 Perumusan
Masalah........................................................................................ 1
1.3 Tujuan............................................................................................................. 2
1.4 Manfaat.......................................................................................................... 2
BAB II Pembahasan
2.1 Pengertian
Kritik Seni.................................................................................... 3
2.2 Ruang
Lingkup Lritik Seni............................................................................. 3
2.3 Jenis-jenis
Kritik Seni..................................................................................... 5
BAB III Penutup
3.1 Kesimpulan..................................................................................................... 8
3.2 Saran............................................................................................................... 9
Daftar
Pustaka....................................................................................................... 10
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Seni dalam dunia
Seni Rupa sangat penting. Malalui Kritik Seni, kita bisa melihat kelebihan dan
kekurangan yang tampak dalam sebuah karya seni. Terjadinya kritik disebabkan adanya ketidak sesuaian, penyimpangan ataupun
lepasnya batas-batas normatif dalam pandangan obyektif pelaku kritik. Tentu
pandangan masing-masing pelaku kritik didasari dari latar belakang ilmu
pengetahuan dan pengalamannya secara menyeluruh.
Artinya kritik pun bisa bermakna subyektif bisa pula bermakna obyektif.
namun nilai kritik akan sangat bisa diterima, tentunya, jika sudah melalui
seleksi mayoritas atas pandangan yang obyektif. Situasi kondisi dalam hal ini sangat mudah kita
saksikan, baik itu di wilayah publik, maupun dalam wilayah-wilayah yang lebih
kecil. Misalnya lingkungan sekitar. Atau bisa juga dalam sebuah komunitas
tertentu. Prilaku kritik mengkritik sangat mudah dijumpai di mana saja dalam
konteks sesuai dengan wilayah masing-masing.
Mengkritik sebaiknya dibarengi dengan semangat untuk menciptakan kondisi
yang lebih baik dari sebelumnya bukan sebaliknya. Jadi jikapun terjadi
sebaliknya, berarti ada yang konslet dari proses kritik mengkritik itu. Dan
disitulah yang musti dibenahi. Dalam kehidupan sosial secara umum, kritik mengkritik kerap terjadi. saya
yakin dengan menjaga prinsip-prinsip saling menghormati, realistis dan
menggunakan teknik komunikasi yang cerdas, maka kritik akan menjadi perbuatan
yang menyenangkan.
1.2
Rumusan
Masalah
Dari pembahasan diatas yang menjadi
perumusan masalah adalah :
1.
Apa pengertian dari kritik seni di
dalam seni rupa?
2.
Apa yang dimaksud ruang lingkup
kritik seni di dalam seni rupa?
3.
Apa saja jenis-jenis kritik seni
itu di dalam seni rupa?
1.3
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian kritik seni
pada seni rupa
2.
Untuk mengetahui ruang lingkup kritik
seni pada seni rupa
3.
Untuk mengetahui jenis-jenis kritik seni
pada seni rupa
1.4
Manfaat
Penelitian
Dengan makalah ini, diharapkan dapat
memberikan pengetahuan serta pemahaman yang baik, baik kepada penulis maupun
kepada pembaca tentang kritik seni. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari
penyusunan makalah ini adalah pembaca dapat mengetahui tentang pengertian
kritik seni, ruang lingkupkritik seni dan jenis-jenis kritik seni.
BAB
II
2.1
Pengertian Kritik Seni
Kritik seni
merupakan kegiatan menanggapi karya seni untuk menunjukkan kelebihan dan
kekurangan suatu karya seni. Keterangan mengenai kelebihan dan kekurangan ini
dipergunakan dalam berbagai aspek, terutama sebagai bahan untuk menunjukkan
kualitas dari sebuah karya.
Para ahli seni
umumnya beranggapan bahwa kegiatan kritik dimulai dari kebutuhan untuk memahami
kemudian beranjak kepada kebutuhan memperoleh kesenangan dari kegiatan
memperbincangkan berbagai hal yang berkaitan dengan karya seni tersebut.
Sejalan dengan
perkembangan pemikiran dan kebutuhan masyarakat terhadap dunia seni, kegiatan
kritik kemudian berkembang memenuhi berbagai fungsi sosial lainnya. Kritik
karya seni tidak hanya meningkatkan kualitas pemahaman dan apresiasi terhadap
sebuah karya seni, tetapi dipergunakan juga sebagai standar untuk meningkatkan
kualitas proses dan hasil berkarya seni.
Tanggapan dan penilaian yang
disampaikan oleh seorang kritikus ternama sangat mempengaruhi persepsi penikmat
terhadap kualitas sebuah karya seni bahkan dapat mempengaruhi penilaian
ekonomis (price) dari karya seni tersebut.
2.2
Ruang
Lingkup Kritik Seni
Kritik seni
kecuali berobjek pada karya seni bisa juga berobjek pada tulisan tentang karya
seni dan seninya sendiri, kritikus dapat membuat penilaian, mempertimbangkan
atau penghakiman harus didasari pada kriteria atau tolak ukur tertentu. Dalam
kriteria yang intrinsik, yaitu kriteria yang berhubungan dengan nilai estetik
karya seni rupa yang inheren pada sasaran (objek) kritik, kriterianya telah
melekat pada intraestetik yang
terkandung di dalam karya seni. Akan tetapi tidak semua karya seni bersifat
otonomi kedudukannya dalam kehidupan manusia, karena tidak semata-mata “seni
untuk seni” maka disamping kriteria intrinsik ada pula kriteria ekstrinsik atau
ekstraintrinsik yang mengacu pada bidang kehidupan di luar seni, antara lain
bidang agama, politik, bisnis, etika, kesehatan, pendidikan, dan lain
sebagainya.
Semula kritik
seni dibangun dari konsep filsafat metafisis, dari sisni timbul bermacam-macam
kritik yang bersifat dogmatis. Akan tetapi belakangan ini tampaknya pendekatan
secara empiris lebih diterima dan dipraktikkan secara luas. Pendekatan yang
terakhir memandang karya seni sebagai basis pengajuan hipotesis dalam
menafsirkan nilai seni. Konsep yang menempatkan pentingnya unsur pembuktian
dalam proses penelitian nilai seni sangat diutamakan oleh kritikus. Namun
demikian keberadaan seni masih diperdebatkan. Ada yang berpendirian bahwa
kritik seharusnya merupakan aktivitas evaluasi, karya seni adalah objek atau sasaran
pengalaman estetik, kritik tidak perlu sampai pada kesimpulan nilai penghakiman
karena dengan deskripsi atau pembahasan yang lengkap sudah mencukupi untuk
menangkap makna estetis (Dewey, 1971).
Pendirian lain
menganggap kritik sebagai usaha pemahaman dan penikmatan karya seni. Kritik
sebagai kajian atau penelitian secara rinci dan apresiatif dengan analisis yang
logis dan argumentatif untuk menafsirkan karya seni sebagai aktivitas evaluasi
kritik harus sampai pada pernyataan nilai baik, ahkan samapai pada penentuan
kedudukan karya seni dalam konteks karya yang sejenis (Feldman, 1981).
Sementara
dikatakan pula bahwa aktivitas kritik sebagai seni tersendiri artinya seorang
kritikus juga seorang seniman, kritikus adalah seorang individu kreatif yang
mengungkapkan makna seni. Maka dari itu dalam kritik seni ada tiga ansumsi
penting, bahwa dalam kritik sebagai apresiasi seni, kritik sebagai aktivitas
penghakiman, kritik sebgai seni tersendiri. Meskipun prinsip kritik seni
biasanya kurang terpuji akan tetapi menurut kenyataannya orang membutuhkan
prinsip dasar untuk memperkuat dan memperkokoh penilaian seni sampai pada
kesimpulan penilaian yang baik, lebih baik, dan yang terbaik.
Kiranya
telah disadari sejak awal bahwa kritik seni adalah memahami dan menikmati karya
seni, maka kritikus akan mendasarkan kritiknya terpusat pada objek atau sasaran
kritik yakni karya seni itu sendiri. Sementara faktor lain yaitu faktor
eksternal seperti bakat seni, reputasi biografis, kontekssosial budaya, dan
faktor-faktor lain di luar karya seni itu dipakai sebagai material yang harus
dikonfirmasikan atau disesuaikan dengan hasil pengamatan terhadap karya seni.
2.3
Jenis-jenis Kritik Seni
Kritik karya
seni memiliki perbedaan tujuan dan kualitas. Karena perbedaan tersebut, maka
dijumpai beberapa jenis karya seni seperti yang disampaikan oleh Feldman (1967)
yaitu kritik populer (popular criticism), kritik jurnalis (journalistic
criticism), kritik keilmuan (scholarly criticism). dan kritik
pendidikan (pedagogical criticism).
Pemahaman terhadap keempat tipe
kritik seni dapat mengantar nalar kita untuk menentukan pola pikir dalam
melakukan kritik seni. Setiap tipe mempunyai ciri (kriteria), media (alat :
bahasa), cara (metode), sudut pandang, sasaran, dan materi yang tidak sama.
Keempat kritik tersebut memiliki fungsi yang menekankan pada masing-masing
keperluannya.
1.
Kritik Populer
Kritik populer adalah jenis kritik
seni yang ditujukan untuk konsumsi massa/umum. Tanggapan yang disampaikan
melalui kritik jenis ini biasanya bersifat umum saja lebih kepada pengenalan
atau publikasi sebuah karya. Dalam tulisan kritik populer, umumnya dipergunakan
gaya bahasa dan istilah-istilah sederhana yang mudah dipahami oleh orang awam.
2.
Kritik Jurnalis
Kritik jurnalis adalah jenis kritik
seni yang hasil tanggapan atau penilaiannya disampaikan secara terbuka kepada
publik melaui media massa khususnya surat kabar. Kritk ini hampir sama dengan
kritik populer, tetapi ulasannya lebih dalam dan tajam. Kritik jurnalistik
sangat cepat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kualitas dari sebuah
karya seni, tertama karena sifat dari media massa dalam mengkomunikasikan hasil
tanggapannya
3.
Kritik Keilmuan
Kritik keilmuan merupakan jenis
kritik yang bersifat akademis dengan wawasan pengetahuan, kemampuan dan
kepekaan yang tinggi untuk menilai/menanggapi sebuah karya seni. Kritik jenis
ini umumnya disampaikan oleh seorang kritikus yang sudah teruji kepakarannya
dalam bidang seni, atau kegiatan kritik yang disampaikan mengikuti
kaidah-kaidah atau metodologi kritik secara akademis. Hasil tanggapan melalui
kritik keilmuan seringkali dijadikan referansi bagi para kolektor atau kurator
institusi seni seperti museum, galeri dan balai lelang.
4.
Kritik Kependidikan
Kritik kependidikan merupakan kegiatan
kritik yang bertujuan mengangkat atau meningkatkan kepekaan artistik serta
estetika subjek belajar seni. Jenis kritik ini umumnya digunakan di
lembaga-lembaga pendidikan seni terutama untuk meningkatkan kualitas karya seni
yang dihasilkan peserta didiknya. Kritik jenis ini termasuk yang digunakan oleh
guru di sekolah umum dalam penyelenggaraan mata pelajaran pendidikan seni.
Selain jenis kritik
yang disampaikan oleh Feldman, berdasarkan titik tolak atau landasan yang
digunakan, dikenal pula beberapa bentuk kritik yaitu: kritik formalistik,
kritik ekspresivistik dan instrumentalistik :
1. Kritik
Formalistik
Melalui
pendekatan formalistik, kajian kritik terutama ditujukan terhadap karya seni
sebagai konfigurasi aspek-aspek formalnya atau berkaitan dengan unsur-unsur
pembentukannya. Pada sebuah karya lukisan, maka sasaran kritik lebih tertuju
kepada kualitas penyusunan (komposisi) unsur-unsur visual seperti warna, garis,
tekstur, dan sebagainya yang terdapat dalam karya tersebut. Kritik formalistik
berkaitan juga dengan kualitas teknik dan bahan yang digunakan dalam berkarya
seni.
2. Kritik
Ekspresivistik
Melalui
pendekatan ekspresivistik dalam kritik seni, kritikus cenderung menilai dan
menanggapi kualitas gagasan dan perasaan yang ingin dikomunikasikan oleh
seniman melalui sebuah karya seni. Kegiatan kritik ini umumnya menanggapi
kesesuaian atau keterkaitan antara judul, tema, isi dan visualisasi objek-objek
yang ditampilkan dalam sebuah karya.
3. Kritik
Instrumentalistik
Melalui
pendekatan instrumentalistik sebuah karya seni cenderung dikritisi berdasarkan
kemampuananya dalam upaya mencapai tujuan, moral, religius, politik atau
psikologi. Pendekatan kritik ini tidak terlalu mempersoalkan kualitas formal
dari sebuah karya seni tetapi lebih melihat aspek konteksnya baik saat ini
maupun masa lalu. Lukisan berjudul ”Penangkapan Pangeran Diponegoro” karya Raden
Saleh misalnya, dikritisi tidak saja berdasarkan kualitas teknis (formal) nya
saja tetapi keterkaitan antara objek, isi, tema dan tujuan serta pesan moral
yang ingin disampaikan pelukisnya atau interpretasi pengamatnya terhadap
konteks ketika karya tersebut dihadirkan.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kritik
seni merupakan kegiatan menanggapi karya seni untuk mempertumbuhkan kelebihan
dan kekurangan suatu karya seni. Kegiatan kritik berawal dari kebutuhan untuk
memahami kemudian beranjak kepada kebutuhan memperoleh kesenangan dari kegiatan
berbincang-bincang tentang karya seni.
Kritik
seni kecuali berobjek pada karya seni bisa juga berobjek pada tulisan tentang
karya seni dan seninya sendiri, kritikus dapat membuat penilaian,
mempertimbangkan atau penghakiman harus didasari pada kriteria atau tolak ukur
tertentu. Dalam kriteria yang intrinsik, yaitu kriteria yang berhubungan dengan
nilai estetik karya seni rupa yang inheren pada sasaran (objek) kritik,
kriterianya telah melekat pada
intraestetik yang terkandung di dalam karya seni. Akan tetapi tidak semua karya
seni bersifat otonomi kedudukannya dalam kehidupan manusia, karena tidak
semata-mata “seni untuk seni” maka disamping kriteria intrinsik ada pula
kriteria ekstrinsik atau ekstraintrinsik yang mengacu pada bidang kehidupan di
luar seni, antara lain bidang agama, politik, bisnis, etika, kesehatan,
pendidikan, dan lain sebagainya.
Menurut
Feldman (1967) terdapat 4 (empat) jenis kritik seni, yaitu kritik jurnalistik
(journalistic criticism), kritik populer (popular criticism), kritik pedagogik
(pedagogical criticism), dan kritik akademik (scholarly criticism). Pemahaman
terhadap keempat tipe kritik seni dapat mengantar nalar kita untuk menentukan
pola pikir dalam melakukan kritik seni. Setiap tipe mempunyai ciri (kriteria),
media (alat : bahasa), cara (metode), pola berpikir, sasaran, dan materi yang
tidak sama.
Berdasarkan
titik tolak atau landasan yang digunakan, dikenal beberapa bentuk kritik
sebagai berikut :
1.
Kritik Formalistik, kajian kritik
terhadap karya seni sebagai konfigurasi aspek-aspek formalnya atau berkaitan
dengan unsur-unsur pembentukannya.
2.
Kritik Espresivistik, menilai dan
menanggapi gagasan dan perasaan yang ingin dikomunikasikan oleh seniman dalam
sebuah karya seni.
3.
Kritik Instrumentalistik, sebuah karya
seni dilihat kemampuananya dalam upaya mencapai tujuan, moral, religius,
politik atau psikologi.
3.2
Saran
Setelah mengetahui apa saja yang dibahas
didalam makalah ini, para pembaca diharapkan dapat mengetahui dan memahami isi
makalah ini yang berjudul “Kritik Seni”. Selain itu, para pembaca bisa
menerapkannya pada kegiatan yang berhubungan dengan seni maupun pameran. Setiap
makalah memang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing, untuk
melengkapi informasi yang lebih lengkap lagi selain dari makalah ini,
diharapkan para pembaca untuk menambah pengetahuannya melalui sumber-sumber
yang lain dan terpercaya, sehingga setiap sumber dapat saling melengkapi satu
sama lain.
DARTAR
PUSTAKA
Adewinata.2014.Pengertian
Ruang Lingkup dan Jenis. (online), (http://adewinataa.blogspot.co.id/2014/12/pengertian-ruang-lingkup-dan-jenis.html),
diakses tanggal 25 november 2015
Sajid, Fahmi.2015.Jenis Kritik Karya Seni Rupa. (online), (http://sma-senibudaya.blogspot.co.id/2015/01/jenis-kritik-karya-seni-rupa.html?m=1)
, diakses tanggal 25 november 2015
Ma’ami,Abdul Aziz.2012.Kritik Seni. (online), (http://sen1budaya.blogspot.co.id/2012/09/kritik-seni.html?m=1)
, diakses tanggal 25 november 2015